vina.qurotulaina10's blog

mencari dan memberi yang terbaik

September15

Vina Qurotulaina

H14100067

Laskar 12

Saya pernah membaca sebuah novel yang isinya sangat menginspirasi saya untuk selalu bersyukur kepada Tuhan, atas apa yang telah Ia berikan kepada kita serta mengingatkan kita akan kasih saying ibu yang tidak pernah akann ada habisnya. Novel tersebut berjudul “Moga Bunda Disayang Allah.” Novel tersebut bercerita tentang seorang anak perempuan berumur 6 tahun, ia memiliki banyak ketebatasan, yaitu ia menderita buta, tuli, dan bisu. Bayangakan bagaimana seorang anak kecil berumur 6 tahun bisa bertahan hidup dengan segala keterbatasannya itu?

Orang tuanya, khususnya ibunya sudah hampir berputus asa dengan cara mengobati dan mendidik anaknya yang malang itu. Setiap hari ia merasakan pedih yang teramat menyiksa, mengingat dulu putrinya adalah seorang anak yang sangat pintar, dan seketika hilang semua kemampuan dasarnya karena sebuah kecelakaan kecil yang menimpanya. Awalnya, gadis kecil itu normal, bisa melihat, bisa berbicara, dan bisa mendengar, tetapi pada sebuah liburan yang indah di pantai, gadis itu terjatuh, dan akhirnya hilang perlahan, kemampuannya melihat, berbicara, dan mendengar.

Hidup gadis itu hampa, ia tidak bisa mengerti kasih sayang yang diberikan ibunya. Ia tidak mengerti sentuhan lembut, senyum ibunya, apalagi kata-kata kasih sayang yang diungkapkan oleh ibunya. Yang ia tahu hanya gelap, sendiri, sepi, kekosongan dan takut. Dan ia hanya bisa berontak. Semua hal yang datang padanya dianggap sebagai gangguan, ia tidak mengerti caranya makan, karena ia tidak tahu apa itu sendok dan garpu, ia tidak bisa duduk, karena tidak mengerti apa itu kursi. Yang ia bisa lakukan hanya berontak dan berteriak. Ia tidak mengerti siapa itu ibu, yang tiap harinya berusaha membuat ia mengerti, membuat ia merasa nyaman. Tapi, semuanya sia-sia karena yang ia tahu hanya gelap, dan kosong. Tiada seorang pun , tidak ada satupun hal yang bisa ia mengerti.

Hal tersebut membuat orang tua gadis itu bepikir keras mencari jalan keluar bagi putrinya tersebut. Dan pada akhirnya ia menemukan seorang pemuda yang sangat mengerti keadaan anak-anak. Dan pada akhirnya ia bisa mengajarkan kepada gadis tersebut arti hidup. Ia mengajarkan gadis tersebut akan kehidupan melalui telapak tangannya. Gadis tersebut memang tidak bisa melihat, mendengar dan berbicara, tetapi ia bisa merasa. Ia masih punya indera peraba. Dan itulah yang digunakan pemuda tersebut untuk megajarkan gadis mungil itu tentang hidup, dari mulai rintik hujan yang membuat gadis kecil itu merasa nyaman, hingga mengerti apa itu ayah, apa itu ibu, dan semua yang ada di sekitarnya.

Dari cerita tersebut, kita dapat mengambil sebuah pelajaran bahwa kita sepatutnya selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita, Semua kenikmatan yang telah Allah berikan secara gratis kepada kita. Kita diberikan kemampuan untuk melihat, mendengar, dan berbicara. Panca indera yang lengkap, sehingga tidak perlu merasakan apa yang dirasakan gadis kecil dalam novel tersebut. Kita bersyukur dengan mengoptimalkan segala kemampuan yang kita punya untuk kepentingan orang banyak. Dan harus diingat, dibalik kekurangan itu masih ada kelebihan lain yang harus kita optimalkan. Jangan hanya memikirkan kelemahan yang kita punya, tapi maksimalkan kelebihan yang kita punya. Dan dalam QS Al-Insyirah ayat 6 dijelaskan bahwa : ”sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”, Jadi, kita tidak boleh menyerah dengan keadaan yang ada. Karena sesungguhnya pertolongan Allah itu selalu ada, bagi orang yang mau berusaha.

posted under Academic | No Comments »